You're here: My Health Blogging » Parenting » Article: Memberi reward tanpa materialistis

Memberi reward tanpa materialistis

yaya — May 1, 2008 / 5:38 pm

Menurut Sani B. Hermawan, Psi.,Direktur Lembaga Pelatihan Daya Insani, anak usia prasekolah masih cenderung mengutamakan kuantitas (jumlah) daripada kualitas (mutu). Maka bila ia mendapatkan jumlah yang lebih banyak, dia pun merasa ada puas. Di sisi lain, pada dasarnya dalam diri anak ada kebutuhan untuk memuaskan diri dengan cara memiliki atau mendapatkan benda atau apa pun sebanyak-banyaknya.

Jadi gak heran juga kalau anak bunda sering merengek ingin minta barang dalam jumlah banyak. Istilahnya ngapain cuman punya 1 kalau bisa punya banyak? ;) Kalau sudah begini, faktor lingkungan juga amat menentukan.

Wah, susah dong kalau lingkungan malah memberi pengaruh buruk ke anak? tenang bun, yah..bukan begitu kok maksudnya. Contoh sederhananya begini: orangtua yang memberi sesuatu selalu banyak atau berlebihan demi membuat anak merasa puas cenderung membuat anak berpikir “sesuatu yang banyak itu pasti menyenangkan.”

Pasti sering nih bunda/ayah mengiming-imingi anak dengan reward. Kalau naik kelas dibelikan mainan atau kalau nilainya bagus diajak jalan-jalan. Sebenarnya yang begini ini malah menanamkan pemikiran ke anak “berapa banyak yang aku dapatkan kalau aku berbuat begini.”

Mungkin sudah saatnya para orangtua merubah persepsi mereka tentang jenis reward yang diberikan ke anak. Daripada membanjiri anak dengan beda-benda atau hal-hal materiil, kita bisa mengubah jenis rewardnya.

Hadiah kan gak selalu harus berupa barang kan? bisa diganti dengan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat, seperti jalan-jalan ke museum, mengunjungi panti asuhan atau mengajak anak menekuni suatu (berkebun misalnya).

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.

  1. Lex dePraxis

    Bagaimana dengan reward verbal? Indonesia terbiasa berpikir secara kuantitas fisik, sehingga menjadi dingin dan sulit untuk memberikan perhatian yang cukup secara verbal. Dan bila anak sudah besar, orangtua menyalahkannya dan komplain, “Sulit sekali berbicara dengan mereka.” Amazing.

    May 21st, 2008 at 3:03 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • cayono budi.s — saya punya mitra binaan ..bernama pengobatan timur.yang konsepnya menggabungkan metode cina india dan jawa.cina dg konsep yin yang ,acupunctur,acupresure.india ...
  • dinar — Hai,Mom's. ada info untuk penyalur baby sitter bagus tempatnya di Surabaya. namanya Baby sitter Nurani, telp: (031)71332390 Panggil aja Mbak / bu ...
  • Deasy — Gatelll..nyebar lagi. ke dokter ahli alergi, dikasih salep "Dermovate", bagus, begitu gatel diolesin ini langsung mendingan, salep gini belinya di ...
  • kamal jabbar — dok... mertua saya di vonis oleh dokter mengidap penyakit kanker rahim dan di sarankan untuk operasi.adakah obat herbal yang dapat menyembuhkan ...
  • Mifta — Saya punya anak umur 8bulan, sudah tumbuh gigi 4pcs, apa sudah boleh sikat gigi dengan pasta gigi yang ada di ...
  • Jati — commentnya kok pada nyebelin, kalobelum nyoba jng reply napa? pake nanya ini itulah... coba dulu, kalo yang udah nyoba trus ...
  • MINYAK ANGIN AROMATHERAPY — MINYAK MINYAK ANGIN AROMATHERAPY Mohon maaf lahir dan batiin. Met idul fitri yach...?!
  • obat herbal — artikelnya bagus. mari kita galakkan konsumsi obat herbal.
  • ibar santoso — Teh nya dikasih gula gak mbak ? hi hi hi......... becanda ! Makasih tipsnya. Entar gue coba deh.
  • diar — mo nanya nih,kalo bwt ibu hamil gimana ya,aman ga??