Memberi reward tanpa materialistis
Menurut Sani B. Hermawan, Psi.,Direktur Lembaga Pelatihan Daya Insani, anak usia prasekolah masih cenderung mengutamakan kuantitas (jumlah) daripada kualitas (mutu). Maka bila ia mendapatkan jumlah yang lebih banyak, dia pun merasa ada puas. Di sisi lain, pada dasarnya dalam diri anak ada kebutuhan untuk memuaskan diri dengan cara memiliki atau mendapatkan benda atau apa pun sebanyak-banyaknya.
Jadi gak heran juga kalau anak bunda sering merengek ingin minta barang dalam jumlah banyak. Istilahnya ngapain cuman punya 1 kalau bisa punya banyak?
Kalau sudah begini, faktor lingkungan juga amat menentukan.
Wah, susah dong kalau lingkungan malah memberi pengaruh buruk ke anak? tenang bun, yah..bukan begitu kok maksudnya. Contoh sederhananya begini: orangtua yang memberi sesuatu selalu banyak atau berlebihan demi membuat anak merasa puas cenderung membuat anak berpikir “sesuatu yang banyak itu pasti menyenangkan.”
Pasti sering nih bunda/ayah mengiming-imingi anak dengan reward. Kalau naik kelas dibelikan mainan atau kalau nilainya bagus diajak jalan-jalan. Sebenarnya yang begini ini malah menanamkan pemikiran ke anak “berapa banyak yang aku dapatkan kalau aku berbuat begini.”
Mungkin sudah saatnya para orangtua merubah persepsi mereka tentang jenis reward yang diberikan ke anak. Daripada membanjiri anak dengan beda-benda atau hal-hal materiil, kita bisa mengubah jenis rewardnya.
Hadiah kan gak selalu harus berupa barang kan? bisa diganti dengan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat, seperti jalan-jalan ke museum, mengunjungi panti asuhan atau mengajak anak menekuni suatu (berkebun misalnya).

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
Lex dePraxis
Bagaimana dengan reward verbal? Indonesia terbiasa berpikir secara kuantitas fisik, sehingga menjadi dingin dan sulit untuk memberikan perhatian yang cukup secara verbal. Dan bila anak sudah besar, orangtua menyalahkannya dan komplain, “Sulit sekali berbicara dengan mereka.” Amazing.
May 21st, 2008 at 3:03 pm