You're here: My Health Blogging » Parenting » Article: “Ayah mana, ma?”
Saat seseorang menikah, tidak pernah ada keinginan di benaknya untuk bercerai, betul kan?
Akan tetapi bila perceraian itu sendiri tidak dapat dielakkan, seorang wanita harus tetap tegar menghadapinya (apalagi bila ia seorang ibu juga).
Seorang single mom sadar bahwa hanya masalah waktu saat anak bertanya “ayah mana, ma?”
Saya tahu betapa beratnya untuk seorang ibu menjawab pertanyaan si anak itu. Dalam hal ini, sebenarnya tergantung si mamanya sendiri bagaimana cara menjawab dan kapan harus menjawabnya.
Sebelum menjawab, seorang ibu harus merasa nyaman dulu dengan jawaban yang akan ia berikan ke anaknya. Nah, untuk itu menurut Jane Mattes, seorang psikoterapis di Single Mothers By Choice, si ibu harus banyak berlatih untuk berbicara mengenai hal ini ke anak sejak si anak sendiri masih bayi. Emang sih, si anak belum tentu mengerti tetapi dengan cara ini sang mama bisa banyak berlatih untuk menemukan kata-kata yang tepat.
Jane juga menambahkan, kalau sang mama menunggu sampai anaknya dapat mengerti..mama bisa merasa gugup dan deg-degan saat ditanya, maka anakpun bisa menangkap radar kegugupan sang mama juga.
Sebenarnya, mama juga tidak perlu kuatir menunggu anak bertanya, karena anak gak akan bertanya sampai ia berusia 4 atau 5 tahun saat ia sudah mulai mengerti tentang sekelilingnya. Yang terpenting nih ma, kita juga harus bisa meyakinkan ke anak kalau perceraian/perpisahan antara mama dan ayahnya sama sekali bukan kesalahan si anak dan walaupun mama dan ayahnya sudah berpisah, mereka akan tetap menyayangi si anak.
*Picture taken from Google
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
cayo
menjadi singleparent, belum tentu kesalahan pihak laki-laki. :) dalam perkawinan atau relation dalam bentuk apapun, apapun yg terjadi selalu ada dua pihak yg berkepentingan. yg satu berbuat kesalahan dan yang lain mensukseskan kesalahan tsb, dgn cara membiarkan maupun mengkonfrontasikannya. tp ini bukan ttg salah atau benar. :)
yg penting kita harus menanamkan rasa sayang ke anak dimana perpisahan antara suami istri, tidak berarti runtuhnya hubungan ayah-anak maupun ibu-anak. relation itu bakal tetap ada sampai kapanpun.
menjadi single parent adalah pilihan sulit, tapi bila itu memang harus dipilih, yakinlah bahwa itu adalah pilihan terbaik untuk saat itu.
untuk diskusi lbh lanjut, silahkan ke milis indosingleparent maupun kumpulan tulisan kami di : http://indosingleparent.blogspot.com
salam,
cahyo
April 26th, 2008 at 12:20 pm