You're here: My Health Blogging » Parenting » Article: Metode “time out” untuk meredam amarah anak
Setahun yang lalu, keponakan saya yang berusia 4 tahun mengalami kecelakaan di sekolahnya yang menyebabkan ia harus dijahit di bagian pelipis keningnya. Kecelakaan itu tentu saja membuatnya agak trauma buat kembali bersekolah.
Gak hanya itu, keponakan saya rupanya melampiaskan ketakutannya dengan jalan marah-marah tanpa sebab yang berlanjut dengan berteriak sambil menangis. Kelakuan keponakan saya itu bisa disebuat throwing tantrum dalam bahasa Inggris.
Melalui situs http://www.answers.com pada topik tantrum saya mendapatkan informasi sebagai berikut: Tantrums, also called temper tantrums, can occur by the age of 15 months, but are most frequent between the ages of two and four. All children have them at some point, and active, strong-willed youngsters may have as many as one or two a week. Generally, tantrums are an expression of frustration. Children may be frustrated by their inability to perform an activity they are attempting, such as buttoning a coat.
Tantrums may also be an expression of frustration at the lack of control children have over their lives, such as at bedtime when children want to continue playing instead of going to bed. Occasionally a tantrum may also be an attempt to gain attention from a parent or other caregiver, or it may be an attempt to manipulate the situation in some way.
Cara yang dipakai oleh kakak saya untuk meredam marah-marah anaknya adalah dengan memakai metode “time out”. Time out berarti kakak saya memasukkan anaknya di kamar dan menguncinya dari luar. Emang sedikit kejam sih tapi dengan cara ini justru kakak saya memberikan kesempatan anaknya untuk melampiaskan marahnya, baik dengan berteriak, menangis ataupun melempar barang.
Satu hal yang perlu diingat oleh setiap orangtua yang melakukan metode ini, yaitu jangan menyimpan barang berbahaya dan tajam di kamar tempat anak time out. Karena bisa saja si anak penasaran dan mencoba benda itu. Juga jangan lupa untuk memeluk si anak saat ia selesai dengan time out-nya. Pelukan dari sang mama atau ayah bisa memberikan rasa percaya diri ke anak kalau orangtuanya tetap sayang sama dia.
Seperti dibilang di artikel yang saya kutip di atas, melampiaskan marah dengan cara berteriak ini bisa saja adalah fase dari tumbuhnya si anak. Jadi, sejalan dengan bertambahnya umur si anak..mungkin saja si anak akan melampiaskan marahnya dengan cara berbeda.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
Do dan Don’ts saat time out — Parenting
[…] postingan lalu saya sempat mengulas tentang metode time out untuk meredam kenakalan anak. Metode ini sangat tergantung pada kepribadian setiap anak, ada yang berubah perilakunya setelah […]
September 2nd, 2007 at 12:58 am