Layanan Bersalin Gratis

Alhamdulillaah kini masyarakat Indonesia sudah bahu-membahu untuk menanggulangi tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan. Terbukti dengan RUMAH ZAKAT INDONESIA Jakarta Selatan yang telah membuka layanan baru yaitu Layanan Bersalin Gratis (LBG) yang berlokasi di Pasar Minggu dekat terminal Pasar Minggu Jakarta Selatan.

Program ini melayani ibu hamil dengan kriteria:

  1. Termasuk masyarakat menegah ke bawah
  2. Usia Kandungan dibawah 7 bulan
  3. Tinggal di daerah Jakarta Selatan dan Depok
  4. Mengisi formulir keanggotaan di kantor Rumah Zakat Indonesia

Adapun bentuk layanan adalah sebagai berikut:

  1. Kontrol Kehamilan gratis + vitamin dan obat-obatan
  2. Melahirkan gratis
  3. Kontrol pasca melahirkan (http://rumahzakat.org)

Selamat tinggal empengku

Masih seputar masalah empeng, kalau kemaren saya membahas “perlu memakai empeng atau tidak?” kali ini saya ingin mengulas apa yang orangtua harus lakukan kalau anak tidak mau lepas dari empengnya.

Pertama-tama bunda harus tetap memberi perhatian dan kasih sayang ke anak walaupun ia sudah bukan batita lagi. Dengan demikian anak tidak perlu mencari empengnya untuk tempat ia bergantung.

Kalau anak sudah menunjukkan gelagat ingin ngempeng, yuuk alihkan perhatian anak dengan ngajak bernyanyi, menceritakan dongeng atau bercanda. Juga jangan sampai si kecil lapar atau lelah karena kalau sudah begitu ia pasti akan mencari empengnya. Bisa juga bunda terangin dengan pelan-pelan tapi tegas kalau ia sudah terlalu besar buat ngempeng. Ajak si kecil bersama-sama membuang empengnya.

Mengenali gaya bermain anak

Teether, perlu gak sih?

“Bunda dan panda, sharing dong tentang pengalamannya dulu waktu anak-anaknya mau mulai tumbuh gigi. Ceritanya Raissa sekarang udah umur 4,5 bulan dan beberapa minggu belakangan ini dia suka sekali memasukkan jari-jarinya ke mulut.”

Rupanya tidak hanya para bunda lho yang mau belajar cara mengasuh anak, buktinya pertanyaan di atas ditanyakan oleh Bapak Tommy, anggota di forum Blogfam. :) Bingung juga ya ada yang bilang teether (aduh bahasa Indonesianya apa ya? benda buat ngenyot?;)) itu gak baik tapi ada yang gak masalah ngasih teether ke bayi asal kita awasi terus.

Tips utama nih bun, yah.. jangan lupa selalu membersihkan teether (kalau bisa disteril juga yah pakai air mendidih).  Selain itu teether juga perlu sering-sering dimasukkan kulkas gunanya juga untuk mensterilkan teethernya.

Tapi ngomong-ngomong masalah ngenyot benda-benda non makanan, bisa jadi ada hubungannya dengan masa pertumbuhan gigi balita kita, bun.

Eh tapi tergantung anaknya juga :) Ada yang lebih doyan ngenyot benda-benda asing daripada ngenyot teether.

Tahap perkembangan bicara pada anak

 Senang ya kalau dengerin anak bayi atau balita ngoceh :) Untuk orangtua baru pasti lagi deg-degan menanti kata pertama yang akan diucapkan sang buah hati. Ada yang langsung ngomong mama tapi ada juga yang kata pertamanya papa. Kalau gini, pasti sang mama gak rela deh, hihihi ;)

Tau gak bun, yah ternyata ada 5 tahap perkembangan bicara dan bahasa pada anak Tahap pertama adalah Reflexive vocalization

Yaitu dimana pada usia 0–3 minggu, bayi masih menyuarakan tangisan yang berupa refleks belaka/ tanpa disadari, tanpa kehendak bukan respon tanggapan terhadap lingkungannya.

Baru pada usia lebih dari 3 minggu tangisan bayi dapat dibedakan apakah lapar, tidak nyaman atau lain sebagainya. Tahap kedua adalah yang disebut Babbling

Bayi berusia 3 minggu sampai 2 bulan sudah mengeluarkan suara-suara tapi kedengarannya masih belum jelas (suara orang berkumur-kumur dengan nada dan kenyaringan yang berbeda-beda). Lalling adalah tahap ketiga dimana bayi usia 2 s/d 6 atau 7 bulan sudah mulai dapat mendengar dan bisa mengulang-ulang suku kata, seperti ba… ba…, ma… ma…, dan sebagainya. Tahap dimana bayi berusia 10 bulan sudah dapat mendengar suara-suara di sekitarnya dan menirukannya dengan menggunakan ekspresi wajah dan isyarat tangan disebut dengan tahap Echolalia. Pada tahap True Speech atau bicara dengan benar adalah dimana batita berusia 18 sudah dapat berbicara dengan benar, walaupun cara pengucapannya belum sempurna benar.

Memberi reward tanpa materialistis

Menurut Sani B. Hermawan, Psi.,Direktur Lembaga Pelatihan Daya Insani, anak usia prasekolah masih cenderung mengutamakan kuantitas (jumlah) daripada kualitas (mutu). Maka bila ia mendapatkan jumlah yang lebih banyak, dia pun merasa ada puas. Di sisi lain, pada dasarnya dalam diri anak ada kebutuhan untuk memuaskan diri dengan cara memiliki atau mendapatkan benda atau apa pun sebanyak-banyaknya.

Jadi gak heran juga kalau anak bunda sering merengek ingin minta barang dalam jumlah banyak. Istilahnya ngapain cuman punya 1 kalau bisa punya banyak? ;) Kalau sudah begini, faktor lingkungan juga amat menentukan.

Wah, susah dong kalau lingkungan malah memberi pengaruh buruk ke anak? tenang bun, yah..bukan begitu kok maksudnya. Contoh sederhananya begini: orangtua yang memberi sesuatu selalu banyak atau berlebihan demi membuat anak merasa puas cenderung membuat anak berpikir “sesuatu yang banyak itu pasti menyenangkan.”

Pasti sering nih bunda/ayah mengiming-imingi anak dengan reward. Kalau naik kelas dibelikan mainan atau kalau nilainya bagus diajak jalan-jalan. Sebenarnya yang begini ini malah menanamkan pemikiran ke anak “berapa banyak yang aku dapatkan kalau aku berbuat begini.”

Mungkin sudah saatnya para orangtua merubah persepsi mereka tentang jenis reward yang diberikan ke anak. Daripada membanjiri anak dengan beda-benda atau hal-hal materiil, kita bisa mengubah jenis rewardnya.

Hadiah kan gak selalu harus berupa barang kan? bisa diganti dengan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat, seperti jalan-jalan ke museum, mengunjungi panti asuhan atau mengajak anak menekuni suatu (berkebun misalnya).

Bersepeda yang aman dan nyaman

Hari Sabtu dan Minggu adalah kesempatan yang bagus buat mengajak anak-anak berolah raga bersama, bersepeda misalnya. Tidak masalah kalau anak-anak masih mengendarai sepeda roda empat, yang penting keamanan mereka tetap harus bunda dan ayah perhatikan, ya.

Yang paling penting gunakan helm yang sesuai dengan ukuran kepala anak. Sebaiknya gunakan helm yang berstandar baik sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya cedera pada kepala apabila anak terjatuh dari sepeda.

Pakaian yang digunakan juga harus nyaman, seperti celana panjang berbahan tebal (jins). Untuk berjaga-jaga pakaikan juga pelindung siku dan lutut. Untuk anak perempuan, hindari memakai rok lebar dan panjang supaya roknya tidak terkait pedal, rantai, atau jeruji sepeda yang dapat menyebabkan kecelakaan.

Pilih arena berolahraga di lapangan rumput yang datar, jadi kalau misalnya anak terjatuh tidak sesakit bila jatuh di aspal atau semen.

Jangan biasakan anak membonceng adiknya, apalagi kalau ia sendiri baru belajar mengendarai sepeda.

Naaah, besok-besok kalau kakak dan adik mau bersepeda sendiri, bunda jangan lupa mengingatkan mereka ya supaya bersepeda di sekitar kompleks rumah yang tidak terlalu ramai, selalu bersepeda di sebelah kiri jalan, dan waspada.

Juga minta anak memerhatikan baik-baik bila berada di perempatan atau pertigaan jalan. Berhentilah terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan, dan perhatikan kiri-kanan jalan saat akan menyeberang.

Ciri-ciri anak autis

Seperti yang sudah saya bahas di postingan sebelumnya, orangtua jangan buru-buru mencap anaknya autis kalau ia bermain sendiri..tetapi kita perlu waspada bila menemui gejala-gejala seperti:

*Anak begitu tekun dengan apa yang ia mainkan sendiri tanpa memerdulikan orang-orang di sekitarnya. Bedanya dengan anak normal, walaupun ia lagi bermain asyik sendiri..kalau ada suara tv atau tukang eskrim lewat maka sang anak akan berhenti bermain dan beralih ke hal yang lebih menarik perhatiannya.

*Memperlihatkan ciri-ciri unik, contohnya sang anak lebih senang memutar-mutar roda mobil-mobilannya daripada menjalankan mobil-mobilannya.

*Anak senang bermain sendirian di pojokan dan  menyusun benda-benda yang tidak biasa seperti botol.

*Kebiasaan bermain sendiri ini terus terbawa sampai usia selanjutnya.

Anak bermain sendiri

Orangtua sering salah kaprah dalam menilai tindakan anak, contoh sederhananya kalau anak lebih senang bermain sendiri daripada berbagi dengan saudara/temannya..sering orangtua menganggap anaknya itu autis. Padahal belum tentu lho.  Eh tapi sebelum menilai anak kita autis/bukan, sebenarnya apa sih artinya bermain sendiri?

Bermain sendiri adalah bermain tanpa melibatkan orang lain di sekelilingnya. Kalaupun ada orang lain atau anak lain di dekatnya, sang anak tetap asyik bermain sendiri.

Bermain sendiri itu ada 3 kategori:

1.Unoccupied Play

Anak hanya senang mengamati tanpa harus melakukan kegiatan itu. Contohnya, keponakan saya senang sekali mengamati saya yang lagi sibuk depan komputer tanpa mengeluarkan komentar sedikitpun. Tapi kalau saya meninggalkan komputer, ia langsung dengan gesitnya mengambil posisi saya duduk depan komputer dan berpura-pura mengetik :) 2. Solitary Play

Bermain sendirian, gak peduli kalau di sebelahnya ada anak lain. Cuek banget.

  1. On Looker Play

Bedanya dengan Unoccupied Play,seorang anak =mengamati anak lain yang sedang bermain. Biarpun iaa memiliki minat untuk bermain, tetapi belum saling berinteraksi. Biasanya hal ini mulai ditunjukkan oleh anak usia 2 tahun.

Resep: Mie Wortel

Bahan: * 230 g tepung terigu

* 75 g wortel, potong kecil

* 75 ml air

* 2 sdm tepung tapioka

* 2 sdt kaldu ayam bubuk

* 2 btr telur ayam, kocok sebentar

* 3 sdm minyak sayur

* 5 sdm tepung maizena/tapioka, untuk taburan

Cara membuat:

* Masukkan wortel, air, kaldu bubuk, dan telur. Haluskan hingga rata.

* Campur tepung terigu dan tepung tapioka, aduk rata.

* Tuangkan campuran wortel, sambil uleni hingga kalis.

* Giling dengan gilingan mi, mulai dengan ukuran 1 hingga 5.

* Potong dengan ukuran terkecil. Taburi dengan tepung maizena, aduk rata.

* Rebus air dan masukkan mi hingga mengapung. Angkat dan perciki dengan minyak. Dinginkan.

* Mi siap diolah lebih lanjut.

Untuk 4 porsi Nilai gizi per porsi:

Energi: 176 Kkal

Protein: 5,8 g

Lemak: 1,7 g

AsiaBlogging.com News

Asia Blog Network

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)