Hamil karena alasan yang salah

Salah satu keinginan jangka panjang saya adalah menikah dan punya anak. Walaupun usia saya sudah hampir kepala 3, tapi saya yakin InsyaAllah apa sih yang gak mungkin?

Ngomong-ngomong punya anak, barusan saya baca artikel tentang Parenting nih. Ternyata ada 3 “alasan yang salah kenapa pengen punya anak”

1.Untuk mengisi kekosongan

Ada saat dimana pasangan suami istri merasa kesepian di rumah cuman berdua, jadi mereka memilih untuk punya anak.

Alasan ini salah besar, karena siapa sih yang bisa menjamin saat sang anak sudah lahir..mereka gak akan kesepian lagi? Anak itu adalah anugrah Tuhan yang terbesar, ia ada titipan dari Tuhan untuk dijaga, disayang dan dirawat. Bukan untuk mengisi kekosongan yang dirasakan oleh kedua orangtuanya. Lagian kasian banget anaknya, gak tau apa-apa begitu lahir sudah dikasih tanggungjawab untuk mengisi kekosongan orangtuanya :(

2.Jam biologis kita mulai berdetak kencang

Jangan hanya karena merasa umur kita sudah sampai di bilangan yang pantas punya anak, kita buru-buru menikah dan hamil. Emangnya ini perlombaan yaa? biarin sajalah semuanya berjalan dengan sendirinya. Kalau emang sudah waktunya, kehamilan akan datang kok.

3.Buat menyelamatkan pernikahan.

Kehamilan bukanlah jalan keluar dari masalah yang dihadapi suami istri.

Saya sih kasian aja sama anak yang dikandung, karena ia lahir bukan karena buah cinta mama papanya tapi karena ia ia punya kewajiban untuk mempersatukan orangtuanya.  

Untuk orangtua: gak boleh yaaa..

Biasanya nih, sebagai orangtua kita seriiiing banget bilang “gak boleh”, “tidak”, “jangan” ke anak anak. Ternyataaa, “gak boleh”, “tidak”, “jangan” berlaku juga buat bunda/ayah.

Contohnyaaa..

JANGAN INGKAR JANJI

Kalau buat anaknya kakak saya, janji adalah janji yang harus ditepati. Seperti waktu itu kakak saya janji mau membelikan ia eskrim sepulang dari pengajian di rumah saudara. Biarpun waktu itu kita pulangnya malam banget, tetap lho kakak saya mengajaknya mampir beli eskrim :)

Tau gak bun, saat bunda berjanji ke anak..janji itu akan melekat erat di otak anak. Begitu juga saat bunda memenuhi/melanggar janji bunda, anak akan selalu mengingat itu.

JANGAN TERLALU MELINDUNGI

Naah, ini sifat kakak saya banget niih ke anak-anaknya. Contoh simplenya saja saat Isya, anaknya yang berusia 7 tahun mau bersepeda di sekitar kompleks rumah.

Tau gak bun, sama kakak saya Isya sudah dipakei jaket, celana panjang, kaos kaki dan sepatu keds, pelindung lutut, helm dan tak lupa badannya diolesi lotion anti nyamuk!

Segitunyaaa… padahal cuman mau bersepeda di sekitar kompleks rumah saja.

Emang siih mencegah itu lebih baik daripada mengobati, tapi yaa gak usah berlebihan kayak gitu. Saya rasa kalau cuma bersepeda di sekitar kompleks rumah saja cukup pakai helm ajalaah. (duh maaf yaa bunda-bunda, ini cuma menurut saya lhoo..).

PANTANG NGOMONG YANG NEGATIF

Katanya niih, anak yang dibesarkan dalam suasana marah-marah, ngomel-ngomel dan penuh tekanan maka ia akan besar dengan membawa itu semua di dirinya. Gak mau kaan bun anak bunda menjadi orang yang penuh dengan aura negatif? Makanya bun, kalau boleh jangan marah-marah atau mengeluarkan perkataan kasar yaa ke anak.

JANGAN NYUEKIN

Mau sesibuk apapun kita, jangan sampai anak merasa “ih, bunda kok cuek sih sama aku?” Kasih perhatian ke anak, walaupun itu hanya sekedar memuji gambarnya, mengucapkan terimakasih saat ia mengambilkan bunda minum atau menemaninya saat ia lagi makan siang.

GAK BOLEH MARAH-MARAH/ MELARANG TANPA ALASAN GAK JELAS

“Gak boleh main di luar? “Kenapa, ma?” “Pokoknya mama bilang gak boleh!”

Kata “pokoknya” itu lhoo buun yang harus dihindari. Orang dewasa saja kan gak mau kalau dilarang tanpa alasan yang jelas, begitu juga anak. Mereka akan lebih mudah menerima kalau orangtuanya mau sedikit bercerita’ alasan gak bolehnya itu.

Kalau anak lagi sakit

Buku My Sister’s Keeper karangan Jodi Picoult bercerita tentang perjuangan seorang orangtua yang salah satu anaknya lagi menderita penyakit Leukemia. Saya tidak lagi ingin bercerita tentang isi buku ini lho, tapi dari buku ini saya belajar banyak tentang “Parenting saat anak lagi sakit”.

Yang jelas niih, orangtua harus berhenti MENGELUH.

Mengeluh saat:

1.harus begadang ngelonin anak yang lagi sakit 2.saat anak lagi rewel 3.saat anak makannya susah

Selain itu, orangtua harus lebih longgar dengan peraturan. Yang biasanya anak harus makan di meja makan, kali ini ini biarin deh anak makan sambil nonton tv. Kalau perlu, bunda suapin. Namanya juga lagi gak enak badan, pastilah badannya anak lemas dan gak bertenaga.

Bunda/ ayah suka lupa niih, orang lagi sakit makannya susah banget..mulutnya mungkin terasa pahit..susah menelan..atau mungkin merasa mual. Makanya kalau anak gak makan makanan lengkap (nasi plus lauk-pauk yang 4 sehat 5 sempurna) ya jangan dipaksa. Yang penting jangan sampai perutnya anak kosong sama sekali saja. Kan bisa diganti puding kesukaan mereka, sop atau roti bakar.

Kalau anak muntah-muntah boleh lho bunda mandiin pakai air hangat. Kalau anaknya kuat mandi sendiri biarin saja ia sabunan/keramas sesuka mereka.

Inget yaa bunda dan ayah.. kalau anak sakit jangan ngomel-ngomel yaa, ntar anaknya tambah stress lho :)

Jangan hanya bisa memarahi, tapii..

Ya ampuun saya baru tahu lho bun, yah..kalau ada beberapa kalimat yang kalau kita ucapin ke anak malah akan menimbulkan efek negatif ke mereka.

Kalimat-kalimat seperti:

“gimana sih, kok bisa melakukan seperti ini?”

“Makanya denger donk kalau bunda bilangin!”

“Kakak/adik kan bisa melakukan yang lebih baik dari ini.”

“Ada apa siiih sama kamu, nak?”

Duuuh bunda..ayah…kalimat-kalimat di atas pantang banget lhoo dibilang ke anak, soalnya akan dipastikan deh begitu kalimat di atas terlontar dari mulut bunda/ ayah maka rasa percaya diri anak akan terjun bebas. Itu satu.

Yang kedua, gimana anak bisa belajar dari kesalahan mereka kalau orangtuanya bisanya nyalahiin terus? Giliran mereka melakukan hal-hal yang positif, bunda/ayah malah pelit memberi pujian.

Ketiga, bunda dan ayah jangan hanya bisa melarang donk..kasih contoh juga. Dari yang simple aja:

“nak, kalau ngomong yang halus ya..”

sementara bunda sendiri kalau ngomong ke mbak di rumah suka bentak-bentak :(

He..he..he..udah kebayang yaa bun, yah apa yang musti dilakukan? ;)

Tips Menstimulasi Kecerdasan Bayi

• Menatap Mata • Mengajak bicara dengan mimik ekspresif • Menyusui • Menggelitik tubuh • Bernarasi ketika beraktifitas • Menyanyi bersama • Mengenalkan berbagai tekstur • Mengajak belanja • Memberi kejutan • Membacakan buku • Main cilukba • Mainan barang milik orang dewasa • Bermain warna • Rangsang untuk menjangkau suatu benda • Bermain wajah lucu • Memberi kesempatan untuk memilih • Mengubah pemandangan • Tanya kabarnya. Source: http://parentingislami.wordpress.com

Belajar dari Laskar Pelangi

Seneng deh, akhirnya ada juga film anak-anak yang emang layak buat ditonton anak-anak.

Pasti semua setuju kan kalau saya bilang Laskar Pelangi itu adalah potret kehidupan anak-anak yang pantas untuk ditonton oleh seluruh anak Indonesia?

Laskar Pelangi mengandung banyak makna yang patut dicontoh oleh anak-anak kita.

Rajin dan tekun belajar

Melihat antusiasme belajar Ikal, Lintang dan kawan-kawan bisa memotivasi anak-anak kita supaya jangan patah semangat kalau lagi belajar mau seberat apapun tantangan yang dihadapi di sekolah.

Rasa persahabatan yang kental

Anak-anak juga belajar bagaimana menyayangi teman-temannya dan juga belajar peduli dengan sesama teman sebayanya.

Memupuk kreativitas

Lihat deh waktu anak-anak Laskar Pelangi menang di Karnaval. Mereka gak butuh peralatan canggih kok buat menang, asal punya kemauan dan bisa bekerjasama dengan teman-temannya, pasti bisa berhasil juga.

Minggu lalu saya merasa beruntung karena berhasil mengajak keponakan saya untuk nonton film ini. Makanya bun, yah..ajak anak-anak nonton Laskar Pelangi yaa :)

Menilik gaya belajar anak jaman sekarang

Jujur niiiih, saya capek banget melihat gaya sekolahnya anak-anak jaman sekarang. Bukan anak kuliahan atau SMA lho. SD!

Dari cerita mamanya saja sudah bikin saya kaget.

Case 1 (terjadi dengan keponakan saya yang duduk di SMP kelas 1):

Pulang sekolah sudah laporan ke mamanya kalo PRnya ada 7! Belum lagi tugas-tugas presentasinya yang mengharuskan dia untuk bigin baganlah, pidatolah, dll.

Case 2 (terjadi dengan keponakan saya yang duduk di SD kelas 5):

Setiap hari belajarnya ala rodi, artinya dia harus belajar/menghapal catatannya dulu baru ditanya sama mamanya.

Emang sih cara itu berhasil, karena hampir tiap hari di sekolahnya ada ulangan. Tapi tetap saja saya terkaget-kaget mendapati kalau anak jaman sekarang menghadapi tekanan yang lebih berat dari anak yang sekolah di jaman dulu.

Setiap anak memiliki sistem cara belajarnya masing-masing, jadi ya sah-sah saja sih kalau mau belajarnya sistem rodi atau belajarnya mau dengan gaya sersan (serius tapi santai). Yang penting gimana orangtua bisa membantu anaknya supaya tetap konsisten, serius dan disiplin dengan cara belajar mereka.

Melihat dunia dengan kacamata

Baruuu saja blogwalking ke rumah mayanya teman saya. Ternyata belai lagi patah hati karena anak gantengnya yang berusia 4 tahun harus memakai kacamata. Waah kasian banget yaa :(

Bunda dan ayah jangan sedih yaaa. InsyaAllah gak apa-apa kook, yang penting bunda dan ayah inget aja hal-hal berikut:

1.Kasih penjelasan dengan kata-kata yang mudah dimengerti anak (apalagi bila usianya masih tergolong balita) kalau kacamata akan membantunya melihat dengan lebih jelas.

2.Bebaskan si kecil memilih frame kacamatanya sendiri. Pastinya ia akan lebih senang memakai frame pilihannya sendiri.

3.Si kecil jangan diancam yaa bun, kalau ia masih sulit menerima kacamatanya. Bunda kan bisa membujuknya dengan memberinya mainan baru atau makanan kesukaannya sebagai ganti kalau sang anak mau memakai kacamatanya. 4.Kasih pengertian ke anak kalau ada kegiatan yang ia perlu memakai kacamatanya, seperti kalau ia membaca, menonton TV atau lagi di kelas.

5.Untuk membangun kepercayaan diri anak akan kacamatanya, bunda bisa sering-sering ngasih lihat buku cerita yang ada gambar anak lagi pakai kacamata. :) 6.Kalau anak masih sering menyopot kacamatanya, jangan buru-buru minta ia memakainya lagi bun. Biarkan dulu saja beberapa saat saja sebelum membujuknya untuk memakai kacamatanya kembali. Yang terakhir, jangan lupa untuk membersihkan frame kacamata si kecil secara berkala. Ajak si kecil melihat saat bunda lagi membersihkan frame kacamatanya.

Jangan sedih ya buuun, kalau anak harus memakai kacamata bukan berarti dunia kiamat kook :).

Being a father..

Peranan seorang ayah sama pentingnya dengan peranan seorang mama bagi anak-anaknya, jadi menjadi ayah gak berarti ongkang-ongkang kaki aja di rumah main sama anaknya (excuse my language) dan membiarkan sang mama yang mendidik anak-anak. Tidaaak…

Menjadi seorang ayah itu berarti:

1.Menjadi contoh bagi anak-anaknya.

Benar kan? kalau mau anak kita belajar bersopan-santun maka ayah duluanlah yang harus memberikan contoh tersebut. Dari hal kecil saja seperti bilang terimakasih, permisi atau maaf. Kalau anak udah melihat ayahnya melakukan hal-hal tersebut, otomatis ia akan meniru.

2.selalu bersedia untuk mengerti anak-anaknya.

Walaupun anaknya nakal minta ampun, sang ayah harus bisa menahan diri dari selalu memarahinya atau bahkan sampai main tangan ke anaknya. Kalau ayah sudah bisa merubah pola pikirnya dari sistem mendidik jaman penjajahan ke sistem mendidik dengan mengayomi, pasti anak-anak tidak akan segan ngadu ke ayahnya kalau mereka ada persoalan.

3.Gak pernah menggunakan “fisik” dalam mendidik anak-anaknya.

Artinya, mau senakal apapun anak-anaknya sang ayah tidak pernah memukul/menjewer/mencubit anak-anaknya. Ingat yaa para ayah (dan bunda juga) jangan pernah memakai hukuman fisik karena anak-anak yang terbiasa menerima hukuman fisik rasa kepercayaan dirinya akan menurun drastis lho.

Gak ada kan orangtua yang ingin memiliki anak yang gak punya rasa percaya diri?

4.Gak hanya omdo (omong doang).

Kalau emang ayah mau menerapkan disiplin ke anak-anaknya, misalnya: gak boleh nonton tv kalau belum selesai belajarnya.

Naah di sini ayah harus benar-benar bisa berpegang teguh pada aturan yang ia buat sendiri. Jangan sekali-kali punya pikiran “ah, kali ini aja kok,” atau “kan nontonnya cuman bentar.”  Kalau ayah tidak bisa berpegang pada aturan yang ayah buat sendiri, maka anak-anak aka melihat sang ayah tidak serius kalau membuat peraturan.

5.Gak segan memberi tanggungjawab ke anak-anaknya.

Tanggungjawab = percaya.

Dari hal-hal kecil seperti meminta anak-anak membersihkan kamar mereka sendiri, menggunakan uang saku dengan hemat sampai ke hal-hal seperti membantu ayah dan bunda belanja bulanan. Semuanya bisa dilakukan anak kalau kita belajar untuk mempercayai mereka dengan tanggungjawab.

Melatih Anak Untuk Menunaikan Ibadah Puasa

RAMADAN telah tiba. Bulan yang penuh rahmat, berkah, dan ampunan itu sudah tiba. Sebagai orangtua yang telah berpuluh kali menjalani ibadah puasa, tentu kita sudah tahu apa tujuan, makna, dan manfaat berpuasa. Tapi bagaimana dengan anak-anak kita?

Adalah tugas orangtua untuk menjelaskan kepada anak-anak apa arti, makna, dan manfaat berpuasa. Jika tidak dijelaskan sejak dini, bulan Ramadan akan jatuh seperti “perayaan tahunan”. Orangtua harus bisa melatih anak untuk berpuasa. Tapi melatih anak berpuasa tidak bisa dilakukan dengan cara paksa.

Diperlukan proses yang bertahap. Tahap latihan puasa ini dapat diterapkan pada anak dengan waktu yang tak harus penuh. Misalnya, dalam bahasa Sunda ada istilah sadawuh atau puasa sampai pukul 10 pagi, sabedug artinya berbuka setelah bedug zuhur berbunyi. Untuk dapat melatih anak berpuasa, ada beberapa cara yang dapat dilakuan.

Berikan perhatian ekstra.

Melatih anak berpuasa pada bulan Ramadan memerlukan perhatian ekstra. Namun perlu dicatat bahwa tujuan utama melatih anak-anak tumbuh kecintaan terhadap ibadah puasa. Karena itu, dalam latihan, kegembiraan mereka menjalankan puasa harus lebih diutamakan daripada keberhasilan secara kuantitas. Jangan sekali-kali memaksakan kehendak. Jangan menuntut anak bisa berpuasa secara penuh.

Tidak makan dan minum.

Untuk anak usia 5-7 tahun, latihlah untuk tidak makan dan minum setiap dua atau tiga jam sesuai kemampuan mereka. Jika mereka sudah tidak bisa lagi menahan lapar, izinkan mereka berbuka dan tambahkan waktu berpuasa hari selanjutnya sampai terbiasa hingga waktu azan zuhur tiba. Bila sudah terbiasa dan merasa tak merasa terbebani, tambahkan hingga waktu azan asar tiba. Lalu lanjutkan hingga puasa penuh sampai matahari terbenam.

Membangunkan anak.

Untuk anak-anak, bangun untuk makan sahur bukanlah hal yang mudah. Karena itu, orangtua perlu sabar untuk membangunkannya. Tanpa emosi dan kemarahan. Buatlah suasana rumah menyenangkan, misalnya dengan alunan ayat suci Alquran, nasyid, maupun lagu anak-anak, termasuk menikmati acara televisi.

Hidangan menu yang variatif.

Untuk menu makanan, pilihlah yang praktis dan variatif namun sudah cukup kalori. Susu, telur, dan roti, misalnya. Itu adalah pilihan menu yang sering disukai anak-anak. Dan mereka tak butuh waktu yang lama untuk memakannya. Menu itu mampu memenuhi kebutuhan kesehatan dan kekuatan tubuh untuk menjalani ibadah puasa.

Tahapan berbuka.

Jika anak belum berpengalaman puasa, kemudian ia minta berbuka kapan saja, izinkanlah. Jangan tolak. Namun setelah itu, berilah anak pengertian dan motivasi agar kemampuan berpuasanya semakin ditingkatkan. Ide untuk selalu berpuasa setelah berbuka pun bisa dicoba. Setelah berbuka pukul sepuluh, katakan kepada mereka bahwa mereka bisa melanjutkan puasanya. Begitu seterusnya hingga tiba waktu magrib. Jangan lupa mengikutsertakan anak pada saat berbuka, walaupun mereka telah berbuka sebelumnya. Saat berbuka bisa menjadi “peristiwa rohani” yang membahagiakan anak.

Lenyapkan makanan dan minuman dari pandangan anak.

Singkirkan jauh-jauh makanan dan minuman dari pandangan anak-anak. Kosongkan meja serta lemari makan. Kegembiraan saat berbuka atau makan sahur bersama akan memberikan suasana yang lain pada diri anak karena pada waktu berbuka puasa, seluruh keluarga biasanya berkumpul dan bergembira bersama.

Memberikan hadiah sebagai tanda penghargaan.

Memberikan hadiah atas perjuangan anak untuk berpuasa bisa menambah motivasi. Hadiah tidak perlu mahal atau berbentuk benda. Kalau mampu, tidak apa-apa. Kalau ternyata tidak, jangan memaksakan diri. Pujilah dia! Ingat, pujian bisa menjadi hadiah istimewa bagi anak.

Berikan permainan yang menyenangkan.

Untuk mengisi hari-hari anak berpuasa, orangtua dapat memberikan permainan menyenangkan sehingga perhatian ke rasa lapar teralihkan. Misalnya, membuat kerajinan tangan dari biji-bijian, daun, manik-manik, dan lainnya. Atau juga memberikan sesuatu yang bisa digunting, dirobek, dilem, sehingga menghasilkan hal menarik. Pilihan lainnya yaitu mengajak anak berkebun atau mengajak mereka memberikan sedekah kepada keluarga atau orang yang kurang beruntung dan biarkan mereka yang memberinya.

AsiaBlogging.com News

Asia Blog Network

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)